Terang Bulan, kue jadul yang masih populer di Semarang.
Meski sudah ada sejak zaman dahulu (jadul), kue bulan bening masih populer di kalangan masyarakat. Rasanya yang manis dengan topping atau tambahan yang beragam, mulai dari selai blueberry, strawberry, coklat, susu hingga keju menjadi daya tarik tersendiri. Tak hanya itu, teksturnya yang lembut membuat kue jalanan yang banyak dijajakan ini tetap digemari di segala kalangan.
Kue Bandung dinamai dari bentuk kuenya yang bulat penuh seperti bulan purnama. Namun, keunikan kue khas Semarang ini berbeda dengan martabak Bangka atau kue Bandung.
“Martabak Bangka atau kue Bandung teksturnya lebih padat. Adonan Light moon Semarangan lebih tipis dan lembut. Kata orang seperti pancake, jadi lebih lembut dan besar,” kata Nurul Toyib, penjual kue bulan saat ditemui berjualan di Kecamatan Tembalang. dari Semarang pada Sabtu (27 Februari 2021).
Adonan kue bulan transparan terbuat dari gandum dan berwarna kuning kemerahan agar sesuai dengan warna bulan purnama. Rasanya tidak semanis martabak pada umumnya.
“Adonan rasanya asin, sedikit manis. Untuk menambah rasa bisa diberi isian yang berbeda-beda. Kalau yang original biasanya hanya diberi margarin dan gula halus. Namun, pilihan isiannya banyak, misalnya dengan coklat. Tapi isiannya bisa bermacam-macam, misalnya dengan coklat, keju, strawberry, dan blueberry yang dicampur," jelasnya. Dari satu bagian kue bulan, terdiri dari dua lapisan kue yang kemudian ditumpuk menjadi satu. Meski terasa kental karena tekstur kuenya yang lembut seperti pancake, namun tidak terlalu keras untuk dikunyah.
“Cara penyajiannya juga mudah, isian diberikan pada adonan yang sudah jadi dan dipotong sesuai permintaan pembeli. Harganya juga terjangkau, selai atau isian satu rasa Rp 7.000, satu rasa plus keju Rp 8.000, tiga rasa Rp 8.000 , tiga rasa dengan keju Rp.
Diakui Nurul, selama ini peminat kue bulan memang banyak. Selain itu, jika sekolah atau kampus belum diliburkan karena pandemi Covid-19.
“Banyak yang beli, biasanya anak sekolah untuk mahasiswa di Undip dan sekitarnya, tapi karena masih libur, mereka tidak sekolah dan pembelinya sedikit. Tapi masih ramai, rata-rata sehari kami bisa menjual 30 .-50 kue," ujarnya
Sementara itu, salah satu penjual kue bulan, Sinta, mengaku sering membeli kue bulan. Rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut menjadi alasan mengapa ia menyukai jajanan jadul ini. “Rasanya enak dan murah, cocok untuk cemilan di rumah, nonton TV atau kumpul bareng keluarga. Pacar, minum teh juga enak. Sebelum pandemi, saat ada aktivitas di rumah, kue bulan sering dibeli untuk disajikan kepada tamu," jelasnya.
Diakuinya meski jajanan jadul, kuenya tetap update. "Ya, hanya mengubah isian sesuai tren saat ini," kata Sinta.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar